Diduga Asal Jadi, Proyek Jalan Tarutung–Harean Tuai Kritik Warga

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

TAPUT – Foktanews.online || Kualitas proyek peningkatan Jalan Tarutung–Harean yang menghubungkan Kecamatan Tarutung dan Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Proyek yang berada di bawah kewenangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) itu dilaporkan mulai menunjukkan kerusakan di sejumlah titik, meski belum genap satu bulan selesai dikerjakan.

Pantauan di lapangan menunjukkan lapisan aspal di beberapa bagian ruas jalan sepanjang kurang lebih tiga kilometer tersebut terlihat terkelupas, retak, dan mengalami kerusakan dini. Proyek ini diketahui dikerjakan oleh CV 3G STAK dengan nilai anggaran mencapai Rp6,8 miliar lebih.

Salah seorang tokoh masyarakat bermarga Tobing secara terbuka mengkritisi mutu pekerjaan pengaspalan yang dinilainya jauh dari harapan. Ia menyayangkan kondisi jalan yang sudah rusak meskipun baru saja dikerjakan.

“Kami sangat menyayangkan kualitas pekerjaan CV 3G STAK. Belum lama selesai, aspalnya sudah terkelupas di beberapa titik. Ini proyek dengan anggaran besar, masyarakat tentu berharap hasil yang berkualitas dan tahan lama, bukan sekadar asal jadi,” ujar Tobing, Sabtu
(24/1/2026).

Tak hanya soal aspal, Tobing juga menyoroti kondisi bahu jalan (beram) yang dinilai belum ditata dengan baik. Ia mengingatkan, beram jalan yang tidak diisi dan dirapikan berpotensi membahayakan pengguna jalan, baik pengendara roda dua maupun roda empat.

“Beram jalan masih banyak yang belum diisi. Ini sangat berisiko dan membuat pengguna jalan tidak nyaman,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tobing menilai pelaksanaan proyek terkesan dikerjakan secara tidak maksimal. Ia menduga pekerjaan hotmix tidak sesuai dengan perencanaan dan spesifikasi teknis. Bahkan, menurutnya, hingga berita ini diturunkan, sejumlah bagian penting seperti drainase dan penyempurnaan badan jalan belum mendapat perhatian serius.

“Kami minta pihak kontraktor bertanggung jawab penuh sebelum dilakukan serah terima atau peresmian. Jangan sampai proyek ini disahkan sementara kualitasnya masih bermasalah,” katanya.

Ia juga mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap ketebalan dan mutu aspal yang digunakan, serta meminta perbaikan drainase guna mencegah potensi banjir di kawasan permukiman warga yang diduga akibat kesalahan konstruksi. Tobing bahkan meminta Gubernur Sumatera Utara melalui Dinas PUPR turun langsung meninjau kondisi proyek dan menunda peresmian hingga seluruh persoalan diselesaikan.

Keluhan serupa juga disampaikan pengguna jalan yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai pekerjaan peningkatan jalan tersebut lebih menyerupai tambal sulam dibandingkan peningkatan kualitas jalan sebagaimana mestinya.

“Kalau memang peningkatan jalan, hotmix-nya seharusnya kuat dan tidak mudah rusak. Faktanya, belum satu bulan selesai, sudah ada kerusakan di beberapa titik,” ujarnya.

Tobing menambahkan, kerusakan yang muncul bahkan sudah sempat ditangani dengan metode tambal sulam di beberapa lokasi. Menurutnya, hal itu semakin menguatkan dugaan bahwa pengerjaan proyek tidak mengutamakan kualitas dan kemungkinan penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi.

“Ini baru hitungan minggu, badan jalan sudah retak. Ini patut diduga akibat pengerjaan yang asal-asalan,” tegasnya.

Atas kondisi tersebut, agar aparat penegak hukum (APH) untuk segera melakukan audit fisik terhadap proyek peningkatan jalan Tarutung–Harean guna memastikan kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis dan nilai anggaran yang digunakan.

Sementara itu, berdasarkan pantauan awak media di lapangan, pihak kontraktor, pelaksana proyek, maupun konsultan pengawas terkesan sulit ditemui.

Hingga pekerjaan rampung, upaya konfirmasi berulang kali dilakukan namun belum membuahkan hasil, sehingga menimbulkan kesan minimnya keterbukaan dalam pelaksanaan proyek tersebut. (Abednego Manalu)